Ngedhuha, mau dapat apa?


Maaf ya, saya memang selalu memotong post yang terlalu panjang. Supaya teman-teman tetap nyaman membacanya, oke post ini adalah lanjutan tulisan minggu kemaren dan dulu juga.

**********************

Hasilnya.... saya dapat tunjangan rumah selama 4 tahun, karena di Jakarta sendirian, jadi uangnya saya pake ngekost aja. Sebenarnya ini memang fasilitas bagi karyawan pindahan, tapi tetap saya menganggap ini karunia Allah. Bisa jadi loh rezeki ini gak turun lantaran banyak hal, rezeki itu dari Allah, dijemput dengan  ikhtiar, manusia hanya perantara. Enaknya kerja di Jakarta ada tempat tinggal tapi dibayarin, wiih lagi lagi Alhamdulillah........dhuha teruss.

Saat dipindah di Pati, lebih keren lagi. Karena jatah tunjangan rumah setahun bisa untuk ngontrak 3 tahun, karena biaya di Pati memang rendah. Jika tunjangan saya sampai 4 tahun, jadi selama 12 tahun saya gak pusing-pusing mikirin rumah...alhamdulillah dhuha lagee.

Teman dan bawahan kalau saya ceritakan ini, beberapa menganggap ini adalah karena saya karyawan pindahan dan berhak atas tunjangan rumah. Sekali lagi saya katakan, rezeki Allah yang memberi, kalau itupun hak saya tapi Allah gak ridho ngasih ya kita nggak dapet.

Jemput rezeki dengan ikhtiar dan riyadoh, Allah kalau ngasih rezeki tuh ya sering kita gak tahu juga dari mana. Tapi kadang yang jelas-jelas ‘itu’ hak kita, bisa jadi gak dikasih sama Allah. Misal duit gajian bulan ini, di copet orang naudzubillah .... hilang kan.  

Setelah ada PHK dari Garudafood, saya pun diminta bekerja di YCH. Nggak lepas yakin sama Allah, saat negoisasi dengan HRD saya meminta ada tunjangan rumah. Ternyata fasilitas ini baru diadakan di tahun 2016, dan saya akan mendapatkan saat nanti dipindah ke Semarang di bulan ke 2. Angka perbulan lebih besar 50% dari Garudafood namun hanya satu tahun he he....dhuha teruss.

Di pindah ke Surabaya, tunjangan rumah di perbarui lagi hingga 12 bulan kedepan. Hingga saya pun memutuskan resign di bulan November, dan mendiami rumah Ortu di Surabaya, enggak tahu sampai kapan.

Mertua saya juga ada kamar kosong di rumahnya (Surabaya juga) jika pengen pindah. Orang tua istri saya ini juga ada rumah yang di kontrakkan di Bangkalan Madura. Kalau dipikir-pikir aman lah masalah tempat tinggal, namun dhuha terus gak boleh lepas. Karena manusia mah  bisa merencanakan, Allah yang menentukan.

Beberapa ustadz dan pembicara atau beberapa bacaan juga banyak membahas ini, 12 rokaat nya bisa ditafsirkan sebagai sholat sunnah Rawatib. Sehingga sehari semalam bisa dibagi 2 rokaat Qabliyah Subuh, 2 rokaat Dhuha, 2 rokaat Qoblah dan Ba’da Dzuhur, 2 rokaat Ba’da Magrib, dan 2 rokaat Ba’da Isya... pas dah. Nggak berat lah, saya yakin pasti bisa, syaratnya yakini dan luangkan waktu, jangan nunggu waktu luang.

0 comments:

Posting Komentar

Barusan Pulang

Friendship