Hal ini yang menyebabkan saya berangkat jauh dari Pati ke Pekanbaru

Sebelumnya saya infokan kalau tulisan ini adalah lanjutan dari post sebelumnya. Sudah baca ini : Problem 3 tahun lalu, menyebabkan saya musti balik ke Pekanbaru. Kalau udah yuk lanjut.

Super Penyet 268
Setelah segar mandi, ganti baju dan sholat jamak, kami terlelap tidur siang-sore. Tujuan malam pertama adalah mengunjungi tempat makan guru bisnis saya dulu, Pak Ibnu Khattab... di rumah makan Super Penyet 268. Aneh bener pake angka, kelihtannya sih franchise ya soale pernah lihat juga nama ini di Semarang.

Problem 3 tahun lalu, menyebabkan saya musti balik ke Pekanbaru


Hampir 3 tahun yang lalu saya meninggalkan kota Pekanbaru, selama 5 tahun nafkah kami jemput di Bumi Lancang Kuning ini. Istri saya lebih lama lagi karena saat saya dipindah tugas ke Jakarta, dia memilih untuk bertahan dulu di Pekanbaru. Setahun kemudian ada tawaran ke Pati, barulah istri mau ikut pindah.

Di awal Februari kemaren kami merencanakan untuk kembali ke Pekanbaru, akhir 2016 rencana itu telah terpatri. Alhamdulillah uang pesangon PHK, kami gunakan untuk menutup hutang KPR di BRI Syariah, gak pengen punya hutang apalagi di Bank (ngeri). Sekalian kami mengurus mutasi kendaraan bermotor.

Atasan tidak se-iman pada diem, Pemimpin tidak se-iman berani rame

Posting ini adalah lanjutan dari post Pemimpin tidak se-iman berani rame, Atasan tidak se-iman pada diem , kalau sudah baca yuk silahkan lanjut.

Trus gimana pertemanan saya dengan non muslim dia baik banget, dia tulus, dia sering bantu, gak pernah mencela, dia bla bla bla...stop stop. Yang melarang kita berteman itu siapa? Yang ngelarang berteman baik itu siapa? Allah Swt., melarang kita untuk jangan berteman setia. Berteman biasa ya gpp, berteman baik ya gpp, jangan jadi setia, apalagi berteman buruk, zalim ntar.

Karena sebaik-baik teman adalah sesama muslim, apalagi muslim yang baik, pintar, cerdas. Mau mengingatkan kita akan ilmu Islam, menasehati kita jika kita tidak sesuai dengan Islam, membantu kita menjalani kehidupan dengan cara Islam, menyemangati kita untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah Swt.

Pemimpin tidak se-iman berani rame, Atasan tidak se-iman pada diem

Ada nggak ya yang kayak gini, banyak dan bingung jadinya. Gimana nih saya, gimana nih saya. Atasan saya sih muslim tapi atasannya lagi non muslim. Njur kepiye... piye jal.

Sebagai Muslim, musti dan kudu njalanin rukun-rukunnya. Rukun Islam jalanin semua, pastinya dengan pemahaman baik dan benar. Misalnya Syahadat udah mengucap, ternyata masih percaya hari baik/ hari buruk, ternyata masih ngucapin Hari Raya Waisak ke umat Budha, yah...balik lagi dah ke pemahaman Syahadat.

Barusan Pulang

Friendship