Islam Menyatukan bukan memisahkan

"Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunianya kamu menjadi bersaudara......." (QS Ali Imran: 103)

Dunia kini laksana sebuah dusun kecil. Penyatuan berbagai bangsa merupakan sebuah keniscayaan. Namun, realitas menunjukkan umat Islam sekarang terpecah-belah. Kaum Muslim terkotak-kotak menjadi lebih dari 50 negara kecil-kecil. Antar negara itu pun terjadi pertentangan.

Suriah dan Libanon masih bersitegang. Negara-negara Teluk membiarkan Irak digempur AS sendirian. Indonesia dan Malaysia masih berebut blok Ambalat. Israel mencaplok wilayah Palestine, muslim Rohingya di usir dari rumahnya.

Belum ada yang dapat menyatukan umat terbaik yang diturunkan bagi manusia itu. Padahal Allah dan Rasulullah menegaskan bahwa umat Islam adalah satu, laksana tubuh. "Setiap muslim bagi muslim lainnya adalah bagaikan suatu bangunan, yang saling menguatkan satu dengan lainnya" (HR: Bukhari Muslim).

Ganti 1.000 orang = Indonesia baik?

Tulisan ini masih lanjutan dari post sebelumnya ‘Negara Salah Urus’, obrolan yang saya dapat saat bertemu keluarga di kampung halaman. Masih penasaran dan ingin memperjelas lagi karena memang tulisan di blog ini saya batasin – supaya gak capek yang baca.

Jangankan ganti 1.000 orang, ganti satu orang aja kalau nggak kita kenal – kredibilitas dan integritasnya – bakal nolak kok. Maunya tuh orang yang maju jadi pemimpin adalah orang yang dikenal, dari lingkungan kita, lebih lebih adalah keluarga kita.

Barusan Pulang

Friendship