Senin, 06 April 2015

Semasa kecil dibenci, sekarang dicintai

Libur tanggal 3 April jadi menjadi panjang karena jatuh di hari Jumat. Jauh hari sudah kami rencanakan untuk bepergian ke Jogja, karena kakak tertua saya baru pulang Umrah di tgl 29 Maret. Kami sekeluarga pun berkumpul disana.

Naik travel jadi pilhan untuk menuju, jikalau Bis harus berganti-ganti....males. Bertemu saudara dan ponakan adalah nikmat dan rahmat dari Allah. Bercerita dan bertukar pikiran, jadi aktivitas berjam jam berikutnya.

Bertemu Bapak juga hal yang menyenangkan, ini yang mau saya ceritakan. Bapak saya ini berasal dari salah satu daerah yang keras di Indonesia. Pernah dan sering lihat kan kalau di TV, mahasiswa dan siswa demo, bertengkar, tawuran, dll. 

Bener itu di Makassar, nah Bapak saya berasal dari sana, ber suku Bugis – Sulawesi Selatan. Keras sekali mendidik kami saat kecil, dengan pukulan dan bentakan marah – tidak terkecuali dengan Ibu kami. Kami berlima membenci beliau, tidak ada yang mau ngobrol, tidur dan berhubungan. Secukupnya saja, seperlunya saja, hanya menghormati beliau.

Saya pun jarang bertemu, karena selepas SMU saya langsung kuliah dan tinggal di Malang – jarang pulang. Setelah itu kerja di Ungaran, jarang pulang juga. Sempat 1,5 tahun balik lagi di Surabaya, tetep dengan Bapak nggak dekat – biasa aja. Setelah itu pergi jauh ke Pekanbaru, apalagi ini pulang setahun sekali – kadang enggak, karena biaya tinggi he he.

Namun Bapak berubah, apalagi saat sudah cukup lama bekerja di Masjid Al Falah. Beliau jadi lebih nrimo, sabar dan nggak nuntut/ minta macam-macam. Dan apalagi saat Ibu kami meninggal, terlihat bahwa beliau mencintai istrinya. Berkorban walaupun dengan batasan dan rasa canggung saudara Ibu dan kami.

Saat ini kondisi berubah, kami berlima sangat menyayangi Bapak. Padahal yang saya tahu, beliau jarang meminta untuk di perhatikan. Tiba tiba aja kami rasa sayang itu ada, ingin memperhatikan, ingin ngasih sesuatu ke Bapak, disamping memang karena tidak adal lagi Ibu yang ‘menyaingi’.

Akhirnya saya tahu rahasianya, bapak sangat rajin Ibadahnya, sholat wajib selalu di Masjid, sholat sunnah rutin, dzikir, ikut pengajian, doa doanya mungkin sudah berubah, ingin dekat dengan Allah. Sehingga Allah menunjukkannya sedikit nikmat dunia dengan cara dicintai anak dan cucunya. Sungguh Allah adalah pembolak balik hati, berharap dan meminta hanya kepadaNya – tidak akan sia sia. Jauh dibanding meminta kepada manusia, hanya membuat sakit hati.

8 komentar:

  1. menyentuh sekali Mas. iya, selalu ada ruang untuk berubah kan, untuk siapapun tidak terkecuali ayahanda. Ini juga menginspirasi kita, bahwa segalanya akan bisa berubah, dan kita mampu untuk berubah dari hal yang semula tidak baik menjadi baik. mari kita berhijrah.

    BalasHapus
  2. sangat bermanfaat gan,, ane tunggu ya artikel" selanjutnya. Thanks gan

    BalasHapus
  3. Terimakasih atas artikel yang bermanfaat ini, semoga bisa bermaanfaat untuk saya dan lainnya

    BalasHapus
  4. Artikel ini berisi informasi yang sangat bermanfaat untuk semua pembaca khususnya saya sendiri. Saya tunggu lagi informasi-informasi lainnya yang tidak kalah menarik.
    Sukses selalu untuk anda. Terima kasih ^_^

    BalasHapus
  5. informasi yang sangat bermanfaat untuk menambah wawasan kami.
    Jangan lupa ya kunjungan baliknya :)
    thanks gan

    BalasHapus
  6. Akhirnya saya juga tahu rahasianya, bapak sangat rajin Ibadahnya, sholat wajib selalu di Masjid, sholat sunnah rutin, dzikir, ikut pengajian, doa doanya mungkin sudah berubah, ingin dekat dengan Allah. Sehingga Allah menunjukkannya sedikit nikmat dunia dengan cara dicintai anak dan cucunya. Sungguh Allah adalah pembolak balik hati, berharap dan meminta hanya.
    patut dicontoh tuh :)

    BalasHapus
  7. Sangat hangat sekali terlihat keluarganya terima kasih kepada saya pengertian akan pemahaman pentingnya menjaga tali silaturahmi antar keluarga

    BalasHapus

Barusan Pulang

Friendship