Ngunut, diskusi lama yang hadir kembali

Saat saat menetap di Jakarta di awal 2014, intensitas Subuh berjamaah alhamdulillah juga meningkat. Di samping karena sendirian, juga keinginan untuk lebih baik sedang bertambah – sholat 5 waktu berjamaah di masjid pun coba ku rutinkan. Di dekat kost ada 2 masjid yang terjangkau untuk kudatangi, jaraknya pun cukup jauh – butuh sekitar 4 menit untuk menjangkaunya. 

Yang mau saya tulis disini mengenai Qunut, pernah dengar dan sekilas membaca bahwa Qunut tidak ada di jaman Nabi Muhammad Saw. Tapi kebanyakan masjid di Jawa melakukan Qunut saat sholat Subuh, sedangkan di Pekanbaru jarang banget saya mendapatinya. Ini mungkin pengaruh penyebaran Islam oleh Wali Songo, mungkin lho ya…. Sedangkan di Sumatera dari Pedagang Gujarat yang ilmunya menyebar dari Aceh turun ke bawah. 

Sekali lagi ini perkiraan saya…. Pengen banget cari informasi mengenai Qunut ini. Termasuk Sunnah, Makhruh, Mubah atau Haram sih, kalau Wajib enggak lah ya nekk. Ingin ingin ingin tok, tapi nggak action, walaupun ingin yang baik dan tulus tapi nggak action dapetnya yo luama. Eh kemaren baru dapat email dari milis dakwah di kantor mengenai Qunut, Alhamdulillah dapat ilmu…. Langsung saya share aja ya.
“………………….

Perempuan Nggak Perlu Pintar ya...


Yo gak gitu kali bu…..
Tanggapan pertama dalam hati saat mendengar ibu-ibu yang sedang berbicara mengenai nggak perluanya anak perempuan yang bersekolah tinggi.
Hari itu adalah saat saya ada acara di Pati, dan saya sedang menunggu Driver Pabrik menjemput di Bandara Semarang. Setelah lama menunggu akhirnya datang juga, saat yang sama kepala Pabrik juga akan berangkat ke Jakarta. Jadi sekalian nganter dan jemput saya.

Si Driver meminta ijin saya (walaupun hanya basa basi, tapi menunjukkan kesopanan) untuk mengikutkan saudaranya yang dari Semarang untuk kembali ke Pati. Ternyata 2 dari 3 saudara/ temannya si Driver adalah karyawan Garudafood juga. Yo malah gpp. Dan mereka sempet nraktir makan malam, alhamdulillah.

Barusan Pulang

Friendship