Sekali Dayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui

Judul diatas saya ambil karena kali ini saya akan menulis mengenai pengalaman menikmati Indomie, tahu kan Indomie? salah satu produk asli Indonesia buatan Indofood, yang telah menjadi ‘makanan pokok’ masyarakat Indonesia dan berhasil mendunia dengan menggunakan brand yang sama. 

Nah pengalaman saya ini akan saya tuangkan di Blog Sing Biasane dan akan saya kirim ke kompetisi cerita indomie. Mudah-mudahan pengunjung BSB menyukai (bukan mie nya lho) dan juri dari Indofood juga. So satu kali dayung, dua tiga pulau terlampaui……
 
Di keluarga kami indomie atau mie instant merk lain lah [tahun 90’an masih di dominasi indomie juga], menjadi makanan/ lauk alternatif jika memang Ibu tidak memasak. Kami adalah salah satu keluarga di Indonesia yang menikmati mie instant sebagai lauk untuk menemani nasi, jadi 1 bungkus mie instant biasa kita nikmati berdua atau bertiga. 

Ternyata setalah remaja pemahaman saya nih kelihatannya salah, karena mie instan sebenarnya dinikmati hanya mie saja.

Mie Goreng Kuah
Maklum, keluarga kami dulu bukan termasuk keluarga yang menengah ke atas, jadi untuk mie instan, martabak, bakso dan nasi goreng pun menjadi ‘lauk’. Dulu mie instant yang masih sering kita nikmati adalah mie goreng, sedangkan mie kuah jarang disediakan oleh ibu. 


Nah karena stok kami nih memang mie goreng saja, saat kami ingin menikmati mie kuah. Ibu  dengan ‘pede’ nya mengolah mie goreng - yang dihidangkan menjadi mie kuah. Alakazam!.... gimana nih, saat pertama kali ‘produk ini di launching’ kami sempet protes “kok mie goreng di kasih kuah?”, “udah makan aja!” jawab ibu. Ternyata kenikmatan rasanya gak masalah juga, malah ada rasa baru yang bisa kita dapat dari indomie goreng.

Bosan Blogging!

Ya ampuun  lama banget ya gak ketemu dan update postingan rizalarable, ya jelas lah……udah 2 minggu gak posting. Napa gitu? Biar aja, ini salah satu percakapan anak-anak di tempat saya. Kalau ditanya kenapa ya kok gak posting: yang pertama pastinya males, jenuh dan hanya sedikit perubahan.


Sebenarnya ini bukan pertama kali saya gak posting, di hari minggu ke 3 Maret yaitu setelah postingan Nggak Usah Repot untuk Bisa Expert, tapi yang sekarang ini sampe 2 minggu gak posting, muales tenan apalagi beberapa problem klasik muncul di pekerjaan saya. Mulai dari masalah stock, pencapaian dan tim saya yang berkurang karena ingin berkarier di tempat lain…huuhmphss. Hidup terus berjalan, harusnya ;;;; tapi saya memilih untuk mengikuti masalah itu dan menjadi males. 

Males, itulah yang utama namun 'otak kita yang gede ini' berusaha memberi masukan lain yang mengatakan bahwa saya jenuh/ bosan.  Bener loh, lama-lama kayak gini bosen juga: tiap minggu nulis dan nulis dan nulis. Tapi kenapa penulis berita tidak pernah bosan ya???? He he saya tahu, karena mereka dibayar  - ada yang dia dapatkan dari aktivitasnya dan itu berbanding lurus dengan apa yang dia usahakan. Tapi kalau aktivitas update/ posting Blog Sing Biasane..hasilnya sampe sekarang~~~ sedikit. Beberapa pengakuan , dukungan dan semangat memang muncul dari teman-teman. Dan sebenarnya hal itu membuat saya senang dan bangga, bukankah knowing and sharing itu hal yang baik. Gitu donk!!

Apa ini Masalahmu?

Seorang pengawas produksi di ajak oleh team Panitia untuk ikut membantu dalam salah satu kegiatan Perusahaan. Sebagai pengawas pastinya dia berpengaruh atas banyak orang, sehingga informasi acara tersebut bisa cepat disampaikan dan dengan ‘power’ nya dia diharapkan bawahannya bisa menghadiri acara tersebut. sebenarnya dia senang mendapat kepercayaan untuk ikut dalam kepanitiaan, namun dia mengeluh tidak punya waktu. “Aku harus menjaga proses produksi berjalan lancar, aku selalu dikejar target produksi”. Pengawas yang lain pun beralasan sama, tidak mempunyai waktu luang  karena jadwal produksi yang padat – dia beralasan “Aku harus memastikan target produksiku terpenuhi dahulu”.

Menurut Anda apakah hal di atas adalah masalah?? Pengawas pertama menjadikan dirinya sebagai objek penderita yang selalu ‘dikejar-kejar’ oleh target produksinya. Dengan demikian dia selalu tunduk dan patuh pada target produksinya, selalu merasa target produksi adalah Raja. Sedangkan pengawas kedua menempatkan dirinya sebagai subjek yang bisa mengatur dan berusaha mencapai target produksinya. Dalam pola pikirnya target selalu dibawah kendalinya, dia memandang situasi kerja dengan kacamata postif. Dia berperan aktif dalam mengatur pekerjaannya, jika target produksi telah terpenuhi dia mempunya cukup waktu untuk melakukan hal lain. Pola pikir demikian mendorong dia untuk berpikir maju penuh dengan inisiatif dan menginspirasi orang disekelilingnya.

Barusan Pulang

Friendship