Flying like a Bird or Walk like a Worm : Part 2

Hei hei jumpa lagi di Blog Sing Biasane, melanjutkan tema minggu sebelumnya tentang flying like a bird and walk like a worm. Udah baca gak nih? Silahkan menuju ke Part 1, kalau sudah – yuk kita menuju ke cara berjalannya cacing. Hal inilah yang dilakukan oleh Muhammad Yunus saat proses pendirian Grameen Bank di Bangladesh, Bank yang didirikan khusus bagi kaum papa yang memberikan pinjaman tanpa jaminan.
 
Dengan filosofi ini Muhammad Yunus berusaha untuk bisa berjalan dan memandang layaknya seekor cacing, sehingga mengetahui apa saja yang terpapar di depan matanya dengan perlahan, mencium baunya dengan lama, menyentuhnya dengan penuh perasaan dan melihat adakah sesuatu yang bisa dilakukannya.

Konsep ini menurut saya cukup bagus dan kenyataannya yang Anda tidak sadari, hal ini sudah Anda lakukan. Coba Anda perhatikan yang lakukan sekarang, Ya…. Aktivitas/ pekerjaan yang Anda lakukan setiap harinya. Pasti Anda telah melakukan berulang kali dan pastinya kemampuan melakukannya sudah diluar kepala. Dibanding orang lain Anda akan lebih menguasai aktivitas itu, Anda mengetahui lebih detil dan hasilnya juga sudah barang tentu baik pula.

Flying like a Bird or Walk like a Worm : Part 1

Lagi lagi Blog Sing Biasane memberikan posting pilihan, setelah Berlian dan Tanah Liat kini rizalarable menuliskan ‘Terbang seperti Burung atau Berjalan seperti Cacing’. Saya terinspirasi dari membaca buku Re Code Your Change DNA oleh Rheinal,d Khasali, yang di salah satu Bab membahas mengenai Muhammad Yunus - beliau adalah tidak lain dan tidak bukan pendiri dari Grameen Bank – yaitu Bank yang dikhusukan bagi kaum papa di wilayah Bangladesh .

Dari wawancaranya khusunya dengan Stephen Covey – Muhammad Yunus mengatakan bahwa “Saya meninggalkan pola pikir seekor burung yang memungkinkan kita melihat segala-galanya jauh dari atas, dari langit. Saya mulai melakukan pandangan seekor cacing, yang berusaha mengetahui apa saja yang terpapar persis didepan mata saya – mencium baunya, menyentuhnya, dan melihat adakah sesuatu yang bisa saya lakukan”.

Duh duh….Juara bener nih kata – kata M’Yunus, apalagi bagi kita yang sering membaca, mendengar atau bahkan melakukan pekerjaan (kehidupan) dengan metode ‘Helicopter View’. Nih apalagi? ‘Helicopter View’, ini sama saja dengan pola pikir seekor burung. Bisa melihat banyak hal dari atas, sehingga seekor burung bisa dengan mudah mencari ‘solusi’ makanan/ kehidupannya.

Postinganku Diakui


Waow, mantap man! Baru kali tulisan saya dimuat di media massa (koran), salah satu postingan di Blog Sing Biasane tampil di Tribun Pekanbaru. Gak nyangka bener, tulisan yang saya daftarkan ke Tribun Pekanbaru via Blogger Bertuah ternyata di terbitkan juga. 

Walaupun ada editan disana sini, termasuk judulnya juga diganti dari Tidak ada Ruh Diantara Mereka mejadi 'Tegur Sapa itu Budaya Membangagakan' tapi gak masalah. Yang penting gak mengurangi maksud dan tujuan dari tulisan ini. Blogger nih biasanya cari judul yang hot dan menarik untuk dibaca, dan isinya juga apa yang ada di pikiran si blogger tanpa melewati proses editing oleh orang lain.

Prestasi di bidang tulis menulis paling tinggi, selama saya hidup adalah ada di salah satu bulletin Jumat di Masjid dekat Kampus. Beberapa kali tulisan saya hadir di salah satu minggu Bulletin Muhajirin, itu aja sudah lega banget. Sampe akhirnya saya diberi kepercayaan untuk menjadi Ketua Redaksi Bulletin Muhajirin, lha kalo gini nama saya nampang terus tiap minggunya-nulis gak nulis nama saya tetap nampang tiap minggunya.

Dengan kemunculan di Tribun, semangat saya lumayan bertambah. Semangat menulis, semangat membaca dan semangat posting tentunya. Mengabarkan kepada banyak orang apa yang saya ketahui dan pelajari, bahasa inggrisnya “ know it and share it”.

Sebangsa tapi tidak Merasa

Tidak merasa apaan nih? Gak jelas banget sih. Kalo Jelas ntar malah gak baca donk..He he - maksudnya tuh, ya Tidak Merasa Sebangsa lah. Saya terinspirasi untuk menulis Judul di atas setelah membaca buku ‘The Journey of a Muslim Traveler’  yang ditulus oleh Mas Heru Susetyo. Buku terbitan Tahun 2009 dari Lingkar Pena ini saya dapat dengan harga yang cukup bagus, lha wong beli pas ada obral. Walaupun belum habis bacanya, tapi saya gak tahan untuk membaginya kepada pengunjung Blog Sing Biasane.
 
Dalam buku ini, penulis mengisahkan bahwa disalah satu kunjunganya di Thailand, tepatnya di kota Pattani, provinsi Patani, Thailand Selatan. Kalau kita liat di Peta Dunia, Thailand Selatan berbatasan langsung dengan Malaysia. 

Sehingga budaya Melayu lebih kental daripada budaya Thai itu sendiri, misalnya mereka sangat menyukai lagu dan film Malaysia serta Indonesia. Bahasapun mereka lebih sering menggunakan bahasa Melayu, pakaian yang dikenakan serta penganut agama Islam banyak bertebaran di Pattani.

Sebenarnya penduduk Pattani lebih mirip orang Melayu, berbeda dengan penduduk Thailand pada umumnya yg bersuku Thai, karena sebenarnya mereka adalah keturunan Melayu. Bergabungnya tiga provinsi di selatan Thailand (Pattani, Yala dan Narathiwat) adalah kehendak dari Inggris dan Kerajaan Siam melalui perjanjian pada tahun 1909. Yang sama sekali tidak mendengarkan suara rakyat di tiga provinsi tersebut.  Siam itu menjajah tiga provinsi di selatan Thailand sampai kini, dan jangan sebut kami orang Thai atau Muslim Thai. Kami adalah Melayu Muslim Pattani.

Barusan Pulang

Friendship