Bakat Tidak Pernah Cukup

Setelah di postingan minggu sebelumnya saya memberikan pengandaian pilihan, kali ini Blog Sing Biasane juga akan mencoba membahas mengenai pilihan. Karena menurut saya Tuhan yang Maha Esa telah menciptakan takdir manusia dengan berbagai macam pilihan, jadi kita hidup ini sebenarnya tinggal memilih aja dan menjalani pastinya.
 
Semua orang di dunia ini pasti ingin berhasil  dalam segala hal dan kesempatan, apa yang diinginkannya bisa terlaksana dengan baik dan mencapai kesuksesan yang diidam-idamkan banyak orang. Untungnya di negara kita ini berlaku hukum “siapa yang mau bekerja keras, akan berhasil”, hanya sedikit orang yang berhasil/sukses dengan tidak  melebihkan usahanya.
 
Jadi apa sebenarnya kunci kesuksesan? Enggak ada, iya enggak ada…semua modul mengenai cara mencapai sukses telah banyak beredar di mana-mana dengan berbagai cara. Di buku-buku, internet, karya ilmiah, seminar-seminar dll. Yang pasti Tuhan YME tidak menciptakan orang sukses, karena tidak ada bayi lahir sudah menyandang gelar/ titel nya – seperti: Seorang Hakim telah lahir, pengusaha telah lahir atau arsitek sudah lahir.
 
Namun gelar/ titel seperti itu bisa diketahui saat seseorang meninggal, polisi meninggal, pencuri meninggal, menteri meninggal. Proses kesuksesan seseorang berada diantara kelahiran dan kematian, dan saat hidup ini kita berusaha untuk menggapai kesuksesan itu.
 
Seperti yang tertulis pada prolog di atas kalau kita hidup nih tinggal memilih aja, tentukan pilihan hati untuk masa depan dan kemudian berusaha untuk menggapainya. Kebanyakan orang belum tahu cara untuk beraksi, oleh karena itu harus banyak belajar dan latihan.
 
Mengapa harus memilih dan latihan keras berhari-hari kalau memang itu bukan bakat kita, hmm bakat itu penting….namun latihan jauh lebih penting. Berlatih sesuai pilihan kita, belajar hal-hal yang berhubungan dengan pilihan kita, berkumpul dengan orang-orang yang mempunyai pilihan yang sama itu jauh lebih baik.

Berlian dan Tanah Liat

Di postingan kali ini rizalarable memberikan cerita lama tentang pilihan, tulisan ini sebenarnya sudah lama tersimpan di ‘brankas’ salah satu folder pribadi file server saya. Karena belum pernah saya publikasikan, nggak ada salahnya kalo kali ini saya posting di Blog Sing Biasane.


Ini pengalaman saya dulu saat bekerja salah satu perusahaan garment di Ungaran – Jawa Tengah, saat itu bagi semua karyawan baru diwajibkan mengikuti ‘orientasi karyawan baru’ yakni dengan mengenal semua Department dari jenis pekerjaan, personil dan hubungannya dengan pekerjaan (department) kita nantinya.

Caranya dengan mengunjungi semua department sesuai jadwal yang diberkan oleh HRD. Saat itu
jadwalnya aku harus bertemu dengan Kepala dept. Store Fabric (gudang kain), orangnya sangat familiar dan tidak kaku bahkan banyak bercanda. Sehingga pembicaraan saat itu mengalir saja, banyak yang dibicarakan tidak hanya tentang pekerjaan tetapi diselingi dengan pengalaman dan joke-joke yang membuat kita cepat akrab.

Namun yang paling saya ingat adalah saat beliau menceritakan: “……bahwa perusahaan ini adalah perusahaan besar dan pressurenya cukup tinggi, di segala tempat dan kondisi, sehingga banyak karyawan baru yang sering keluar masuk, segalanya diminta serba cepat mungkin itu salah satu factor yang membuatnya besar. Di sini kamu baru dan belum punya pengalaman di bidang ini, kita tidak tahu kamu itu baik/ kuat sehingga bisa survive atau ternyata lemah trus keluar begitu saja tanpa mendapatkan apa-apa”.


“Sekarang saya tanya, apakah kamu termasuk orang baik (pintar, kuat, attitude oke) dan saya andaikan berlian,  atau bilamana -maaf- kamu buruk dan saya andaikan tanah liat-jawabannya nanti kamu pikir sendiri. Kedua pengandaian tadi sama baiknya, karena dengan usahamu yang keras dan sungguh-sungguh dalam melakukan semua pekerjaan serta kondisi di sini memungkinkan kamu akan selalu mengalami/ menemui benturan-benturan keras, dimarahin, disalahkan dan ada berbagai macam masalah yang datang dari berbagai arah yang akan membuatmu stress”.


“Bila kamu berlian, yang awalnya hanya bongkahan nantinya setelah berhasil melewati masa-masa tadi mungkin kamu akan menjadi berlian yang bentuknya sangat indah dan diminati (banyak) orang. Dan bilamana kamu adalah tanah liat, kamu akan bisa menjadi bentuk apa saja seperti vas, patung, atau karya seni lainnya dan disukai (banyak) orang………..”.
 
Aku menjadi berpikir, bila aku menganggap diriku pintar atau berlian nantinya aku bisa menjadi berlian yang indah dan berkilauan atau sebaliknya berlianku hancur tercecer dan bernilai rendah. Namun bila aku menganggap aku ‘kurang’ atau tanah liat, nantinya aku bisa menjadi karya seni/ barang berguna atau sebaliknya juga aku tidak berbentuk apa-apa dan dibuang begitu saja. Jadi ……aku harus berusaha dan sungguh-sungguh. Ini menjadi renunganku di hari itu dan tidak pernah aku lupa cerita ini …thanks Pak Wasit Abu Ali.

Meet & Greet with Owner

Wei wei jumpa lagi di minggu ini, mohon maaf buat pengunjung setia yang datang siang – sore tadi karena emang rizalarable baru posting malam ini. Seperti biasanya gak ada stock …..so???? Bingung mau nulis apaan. Gini aja deh saya mau mengenalkan diri aja, karena  ada pepatah mengatakan “Tak Kenal maka Tak Sayang”  - emang ini pepatah ya? tapi kali ini gak pake nulis – tapi pake gambar nyata saya, sebenarnya di Without Me ada tuh kenapa saya bisa nulis sesuatu….tapi yang ini beda.

Okelah kita mulai aja  - foto-foto dibawah ini saya jepret saat libur lebaran di kota kelahiran Surabaya, ke Mbak ke dua di Malang dan Jogja tempat Mbak pertama saya tinggal.







 Jogja: my first sister son smiling...sempet-sempetin foto di jalan. Untung drivernya dah pengalaman, pengalaman di foto maksudnya. Lha waktu kuliah dulu gabung di HMGF, Himpunan Mahasiswa Gila Foto.

 Ceritanya foto Keluarga saat di Madura, tapi karena belum punya junior - ya berdua aja...Doain ya.
My second Sister son, dari mulai lahir ampe usianya 2,5 baru ketemu - untung dia mau. Baunya sama kali ya...

 Setelah 5 tahun ninggalin kampus, akhirnya kembali...di Malang nih.

 Nah iki kakak pertama, abis di beliin tas Dagadu ...pastinya di Jogja

 Soetta..ini aksi foto dengan masang anting palsu, tapi saat saya jadiin foto profil di FB, banyak fans yang kecewa...duile.

Kaligrafi !!...kaligrafi!!...bukan jualan , tapi foto ini saya tunjukkin ke Tante saya yang di Malang - telah ngasih saya kaligrafi dan sudah saya bingkai, supaya seneng gitu.

Surabaya Jl.Jend.Basuki Rachmad..belakang patung karapan sapi

Yu Painten keleleken cendelo, cekap semanten kenalan kulo menawi lepat nyuwun ngapuro….

Brand Benefit : Part 2

Kembali bertemu di minggu siang bersama Blog Sing Biasane, melanjutkan cerita minggu  lalu mengenai Brand Benefit. Masih ingatkan? atau belum baca...silahkan baca Part 1. Kalo yang masih inget ayo kita lanjutin lagi, sesuai janji saya di minggu lalu.

Setelah kita bicarakan komponen Get dari sebuah brand yakni functional benefit dan emotional benefit, sekarang kita bicara mengenai komponen Give: yang pertama adalah price, sedangkan yang kedua hider expenses. Dalam contoh rolex sebelunya, sebuah produk jam yang harganya minimal 15 juta per piece, jadi untuk mendapatkan fungsi produk yang sedemikian bagus dengan emotional benefit yang cukup membanggakan kita harus membayar 15 juta, maka dari itu tidak semua orang ingin memiliki rolex meskipun getnya tinggi tetapi givenya gak sedikit kan? karena bagi mereka yang merasakan bahwa “oke, saya tidak perlu mendapat get seperti level rolex saya tidak mau membayar 15 juta" tapi cukup 60 ribu untuk jam Monol seperti yang sekarang saya pakai.

Namun untuk orang-orang yang menginginkan kualitas functional dan emotional benefit dari sebuah produk jam maka ia akan mau membayar harga yang tinggi tersebut ….itu tadi komponen price. Tetapi jangan lupa sebuah brand tidak hanya dibebani komponen price tetapi ada komponen lain yang namanya hider expenses. 


Hider expenses adalah biaya-biaya tersembunyi kalau anda membeli/ memilih sebuah brand, seperti misalnya kalau anda memilih rolex maka hider expensesnya adalah rasa tidak aman yang akan menghantui anda – karena anda memakai jam yang mewah. Contoh lain misalnya sebuah supermarket yang harga produknya murah tapi lokasinya jauh dari rumah anda, itu artinya ada biaya tersembunyi yakni biaya transportasi dan waktu yang anda keluarkan karena membeli produk di supermarket tersebut. Belum tentu value bagi sebuah supermarket itu tinggi karena harganya murah, kalau tempatnya jauh dari rumah anda maka valuenya akan menjadi rendah bagi anda….bukankah begitu?.

Suatu contoh lain dari hider expenses adalah seorang teman lama saya – dia programmer software, softwarenya sangat bagus dan dia jual dengan harga yang sangat murah. Tetapi ternyata tidak banyak perusahaan yang berani membeli softwarenya walaupun bagus dan murah…kenapa? walaupun emotional benefitnya bagus, functional benefitnya bagus dan pricenya murah tetapi hider expensesnya banyak  misalnya: apakah software tersebut compatible dengan system yang ada, apakah karyawan yang sekarang ada mengerti dengan software tersebut sehingga biasanya ada biaya-biaya tersembunyi dalam bentuk harus mentraining karyawan dan sebagainya. 


Jadi kesimpulannya adalah brand merupakan symbol dari value dan anda harus ingat bahwa yang harus anda kemukakan kepada customer itu bukan produknya melainkan value atau brandnya dan untuk membuat suatu rumusan brand atau value yang bagus ada 4 komponen yang harus anda perhatikan : bagaimana functional benefitnya, bagaimana emotional benefitnya, lalu bagaimana pricenya dan terakhir adalah adakah hider expenses yang tersembunyi.

Barusan Pulang

Friendship